Hari pertama.

 Ini cerita tentang tujuh hari bersama hantu, Hamid maksudku. Ini hal tergila yang pernah aku lakukan, gak pernah aku berpikir bakal lakuin hal gila bersama hantu dan itu dalam kurun waktu seminggu. Hamid dan aku buat perjanjian, cukup seminggu dan dia harus pergi dari hidupku. Dan, itu harus tetap dilakukan.

Hari pertama, dia bilang, “Saya mau keliling taman kota bersama, dulu saya dan Sania berjanji melakukan itu. Tapi, saya pergi duluan haha.” Itulah kenapa aku dan dia sedang duduk santai melihat ramainya manusia di taman kota dengan permen kapas dua, orang awam pasti ga liat. Tapi, aku liat langsung bagaimana Hamid makan permen itu dengan lahap.

Dan ternyata, aku bertemu Ghania. Sebenernya, aku kurang suka sama dia. Terlalu banyak bicara, bahkan perkataannya ga berguna semua. “Wah, halo Anila! Sendiri aja nih?” tanyanya, apa dia buta ya? Jelas-jelas aku sendiri! Hamid, ga perlu dihitung. Ghania emang bisa liat dia? Aku bilang, “Menurut kamu aja.”

“Kasihan banget sih sendiri, cari pacar dong kayak aku nih. Aku lagi bareng Gali, abis dari—” Aku dengan cepat memotongnya, “Aku gak nanya.” Ghania ini buat kesal aja, aku jelas benci dia. Emang kalo aku ga punya pacar kenapa?? Dasar orang aneh sedunia. Berikut adalah suara hati Anila Samudra.

Ghania lantas pergi begitu saja, lagian aku gak peduli juga. “Cewe aneh banyak ngomong, jelek, ih benci banget sih aku sama dia!!” Sumpah serapah yang aku lontarkan, sebaiknya ga aku ceritakan. Dan Hamid, malah fokus makan permen kapas. Aku lagi kesel tambah kesel liat Hamid yang ga peduli dengan sekitar.

“Ini juga hantu satu banyak mau, makan mulu,” ujarku, Hamid nanya, “Siapa?” Bisa-bisanya dia nanya begitu, jelas jelas semua perkataanku mengarah ke dia. “Kamu lah!!” Dia hanya ber-oh ria. Wah, bikin aku marah saja.

“Masa oh doang sih??” Hamid menaikkan alisnya. “Terus apa?” Ih, kata aku ya Hamid menang nominasi hantu teraneh sedunia. Kenapa ya aku harus terjebak bareng dia di taman kota. “Kamu ga liat apa tadi Ghania ledek aku?? Kamu berguna dikir dong jadi hantu, ikutin dia aja. Aku terlalu baik buat kamu. Aku—”

Hamid bilang, “Emang kamu baik?” Jelas kalimat ini menyakiti hatiku, walau yang dia bilang fakta. Tetap aja! Aku kesel padahal baru hari pertama. Bagaimana aku dihari selanjutnya? “Saya gak perlu capek capek buat ngikutin Ghania, dia sendiri sudah ditempeli banyak roh jahat. Kamu apa ga liat, banyak asap hitam melekat?”

Yang Hamid bicarakan memang fakta, banyak roh jahat melekat pada Ghania. Banyak dan bahkan bermacam bentuknya. Serem sebenernya, cuman tadi aku lebih kesel liat Ghania daripada takut liat dibelakangnya. Hamid mulai beranjak, “Ayo pulang.” Aku bingung. “Kita belum keliling?”

“Saya capek,” ujarnya. “Kamu cuman duduk aja, di mana letak capeknya? Bahkan kamu habis dua permen kapas.” Kata Hamid, “Saya capek liat kamu banyak bicara.” Terima kasih Hamid untuk kalimat yang kamu lontarkan buat hari pertama.

Baru hari pertama, aku sudah merasakan hawa sengsara. Sepertinya, Anila Samudra harus banyak menyediakan stok kesabaran dan mendinginkan kepala. Karena, aku rasa sebentar lagi akan sengsara.

To be continue ....

Komentar

Posting Komentar